Seputarkarawang.com - Karawang, Kemeriahan prosesi Kirab Budaya Mahkota Binokasih dalam rangka Milangkala Tatar Sunda di Kabupaten Karawang menyisakan duka mendalam. Sebuah video yang viral di media sosial, salah satunya diunggah akun @infokotakrw, memperlihatkan detik-detik mencekam saat sebuah ambulans pembawa pasien darurat tak berdaya menembus kepungan massa dan kendaraan pada Sabtu (9/5/2026) malam. Suara sirene yang meraung di tengah kemacetan panjang seolah menjadi saksi bisu perjuangan tim medis yang terhambat oleh padatnya arus lalu lintas di pusat kota.
Dalam rekaman tersebut, suasana di dalam ambulans tampak sangat emosional. Sopir dan pengantar pasien berkali-kali berteriak meminta jalan kepada pengendara lain agar memberikan ruang, namun volume kendaraan yang membludak membuat laju ambulans tidak maksimal. Ketegangan memuncak saat salah satu keluarga pasien tak mampu menahan amarah karena akses menuju rumah sakit tertutup rapat oleh penumpukan warga yang menghadiri pawai budaya tersebut.
Identitas pasien yang meninggal dunia diketahui bernama Jubaedah, seorang warga Dusun Neglasari, Desa Sedari, Kecamatan Cibuaya. Almarhumah awalnya dilarikan menuju RSUD Karawang karena mengalami gangguan pernapasan akut yang membutuhkan penanganan medis segera. Namun, perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh lebih cepat berubah menjadi petaka saat ambulans terjebak di kawasan Alun-alun Karawang yang menjadi titik pusat keramaian Kirab Mahkota Binokasih.
Kondisi diperparah dengan ditutupnya sejumlah ruas jalan utama, memaksa sopir ambulans mencari jalur alternatif menuju arah Karawang Barat. Sayangnya, kawasan Karawang Barat saat itu juga sedang mengalami kemacetan parah akibat adanya aktivitas konser di area Podomoro. Akibat durasi perjalanan yang membengkak drastis, pasokan oksigen di dalam ambulans dikabarkan habis sebelum pasien sempat mendapatkan tindakan di ruang instalasi gawat darurat.
Ironisnya, Jubaedah dikabarkan bukan satu-satunya korban dalam insiden kemacetan ini. Laporan lain menyebutkan seorang pasien asal Kecamatan Tirtajaya juga mengembuskan napas terakhir dengan dugaan kondisi yang serupa, yakni terhambatnya mobilitas ambulans menuju pusat kesehatan. Dua nyawa yang melayang ini memicu gelombang kritik dari netizen terkait manajemen keramaian dan prioritas akses kedaruratan di tengah penyelenggaraan acara besar di Kabupaten Karawang.
Hingga berita ini disusun, otoritas terkait maupun penyelenggara acara belum memberikan pernyataan resmi mengenai insiden tersebut. Publik kini menuntut evaluasi menyeluruh terhadap sistem rekayasa lalu lintas dan pengawalan jalur ambulans saat agenda besar berlangsung. Tragedi ini menjadi peringatan keras bahwa koordinasi antara perayaan budaya dan akses layanan publik yang mendesak tidak boleh diabaikan demi keselamatan nyawa warga.