Seputarkarawang.com - Karawang, Karawang, 3 Mei 2026 — Suasana berbeda terasa di Kafe Lima Tiga, Karawang, pada Ahad (3/5/2026). Bukan sekadar tempat nongkrong, kafe ini bertransformasi menjadi ruang penuh makna melalui kegiatan Majlis Ngopi (Ngobrol Perkara Iman) yang digagas oleh Yayasan UMKM Karawang Enterpreneur Sejahtera bersama tokoh pemuda dan aktivis dakwah.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa dakwah tidak harus selalu berlangsung di ruang-ruang formal seperti masjid atau majelis taklim. Dengan pendekatan yang santai dan dekat dengan keseharian, nilai-nilai keislaman justru lebih mudah diterima, khususnya oleh generasi muda.
Hadir sebagai pemateri, Ustaz Dayat, Ketua Lembaga Dakwah Front Persaudaraan Islam, menyampaikan tausiyah bertema “Cinta Tanpa Syarat”. Tema ini menegaskan bahwa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan fondasi utama dalam kehidupan, termasuk dalam menjalankan usaha.
Dalam penyampaiannya, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara usaha dan doa.
“Usaha tanpa doa adalah kesombongan, dan doa tanpa ikhtiar adalah kesia-siaan,” ujarnya.
Pesan sederhana tersebut mengandung makna mendalam, khususnya bagi para pelaku usaha, agar tidak hanya mengandalkan kerja keras, tetapi juga memperkuat dimensi spiritual dalam setiap langkah.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Gus Iman, Ketua Presidium Aliansi Ormas Islam Karawang, ini menjadi bentuk kepedulian terhadap kondisi generasi muda saat ini. Di tengah tantangan zaman dan menurunnya minat terhadap pengajian konvensional, Majlis Ngopi hadir sebagai alternatif dakwah yang lebih hangat, inklusif, dan relevan dengan gaya hidup milenial serta Gen Z.
Ngaji kini tidak lagi terasa kaku. Ia bisa hadir dalam suasana santai—ditemani secangkir kopi, obrolan ringan, dan diskusi yang membangun. Inilah pendekatan baru dalam mendekatkan generasi muda kepada nilai-nilai agama tanpa kehilangan esensinya.
Diharapkan, kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha kafe di Kabupaten Karawang dan daerah lainnya untuk menghadirkan ruang-ruang positif yang tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga sarana penguatan spiritual.
Pada akhirnya, generasi muda bukan kekurangan potensi—mereka hanya membutuhkan pendekatan yang tepat.
Ngaji santai, tapi maknanya sampai.
Ngopi boleh, hati tetap terhubung dengan Ilahi.