BERITA

Dibalik Kemeriahan Kirab Binokasih Karawang: Antara Pelestarian Budaya atau Sekadar Pemborosan Anggaran?

Redaksi - Muhammad nur miroji
09 May 2026 3 Menit Baca
Foto: Istimewa

Seputarkarawang.com - Karawang, Kemeriahan Kirab Mahkota Binokasih yang memadati jalanan utama Karawang pada Sabtu malam (9/5) memang menjadi magnet massa yang luar biasa. Namun, di balik riuh rendah sambutan warga, muncul sebuah diskursus logis mengenai urgensi acara tersebut. Sejauh mana agenda seremonial tahunan ini mampu memberikan dampak edukasi sejarah yang konkret bagi masyarakat, melampaui sekadar tontonan visual yang bersifat sementara?

ADVERTISEMENT

Pengerahan sumber daya yang sangat besar, mulai dari pengamanan ketat aparat hingga mobilisasi berbagai komunitas, dinilai sebagian pengamat kebijakan publik perlu diimbangi dengan kedalaman konten edukasi. Tanpa narasi sejarah yang kuat dan mudah diakses oleh penonton di pinggir jalan, mahkota emas seberat 8 kilogram tersebut berisiko hanya dipandang sebagai benda antik berharga. Nilai filosofis yang mendalam tentang kepemimpinan Pajajaran terancam hilang ditelan euforia massa.

ADVERTISEMENT

Kritik logis mulai bermunculan terkait keberlanjutan atau sustainability pasca-acara yang menelan biaya operasional tidak sedikit ini. Masyarakat mulai mempertanyakan apakah setelah kirab ini selesai, ada peningkatan literasi budaya atau perbaikan fasilitas museum dan situs sejarah di Karawang secara signifikan. Sangat disayangkan jika anggaran daerah yang besar hanya habis untuk perayaan sesaat atau one-off event, sementara banyak situs sejarah lokal masih minim perhatian.

ADVERTISEMENT

Febry Ramadhan, Ketua Federasi Mahasiswa Islam (FMI) Karawang, menyoroti aspek efisiensi dalam strategi pelestarian budaya daerah di era modern. Menurutnya, di tengah gencarnya transformasi digital, pengenalan sejarah kepada generasi muda seharusnya tidak hanya bergantung pada parade fisik yang bersifat tradisional dan konvensional. Dibutuhkan terobosan yang lebih relevan dengan gaya hidup masyarakat saat ini agar pesan sejarah tetap sampai ke tujuan.

ADVERTISEMENT

"Secara logika, kalau tujuannya adalah edukasi, maka harus ada output yang terukur dan bisa dinikmati jangka panjang," ujar Febry Ramadhan dalam catatan evaluasinya. Beliau mempertanyakan ketiadaan platform digitalisasi sejarah yang bisa diakses warga secara mandiri setelah acara ini usai. Jika hanya sekadar parade jalanan, maka setelah rombongan lewat, masyarakat cenderung pulang tanpa membawa pengetahuan baru tentang kejayaan peradaban masa lalu.

ADVERTISEMENT

Selain itu, filosofi "Binokasih" yang secara etimologis bermakna kasih sayang pemimpin terhadap rakyatnya, seharusnya tercermin dalam sinkronisasi acara dengan kebutuhan mendesak masyarakat Karawang. Pemanfaatan fasilitas publik dan penutupan jalur utama untuk acara budaya berskala besar harus dipastikan benar-benar memberikan nilai tambah sosial. Hal ini penting agar biaya operasional yang dikeluarkan sebanding dengan manfaat intelektual yang diterima publik.

ADVERTISEMENT

Pemerintah Kabupaten Karawang memang berhasil menciptakan momentum euforia, namun tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjaga semangat "Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh" tetap hidup. Nilai-nilai luhur tersebut jangan sampai hanya menjadi kutipan normatif dalam pidato seremonial para pejabat. Implementasi nyata justru lebih dibutuhkan pada perlindungan dan konservasi situs-situs budaya lokal yang saat ini dalam kondisi terancam punah.

ADVERTISEMENT

Antusiasme warga yang begitu besar sebenarnya merupakan modal sosial yang luar biasa bagi kemajuan daerah jika dikelola dengan tepat. Namun, modal ini harus diarahkan agar tidak hanya menjadi angka statistik kunjungan atau jumlah kerumunan semata. Potensi ini seharusnya menjadi basis gerakan pelestarian budaya yang lebih organik dan edukatif, dimulai dari tingkat sekolah dasar hingga komunitas kreatif di seluruh wilayah Karawang.

ADVERTISEMENT

Kritik terhadap model kirab ini sejatinya adalah dorongan konstruktif agar Pemerintah Daerah mulai berinovasi dalam mengemas konten sejarah lokal. Memadukan teknologi interaktif, seperti augmented reality atau pemandu wisata digital, dinilai jauh lebih efektif untuk menanamkan nilai sejarah pada Gen Z. Pendekatan ini dianggap lebih mumpuni dalam membangun kedekatan emosional anak muda terhadap jati diri bangsa dibandingkan sekadar iring-iringan di jalan raya.

ADVERTISEMENT

Pada akhirnya, pelaksanaan Kirab Mahkota Binokasih harus dievaluasi secara total agar tidak terjebak menjadi kegiatan rutin tahunan yang kehilangan substansi. Keberhasilan sejati sebuah acara kebudayaan adalah ketika setiap warga yang pulang dari lokasi acara merasa lebih mengenal identitas leluhurnya. Esensi pelestarian budaya terletak pada transformasi pengetahuan ke dalam sanubari masyarakat, bukan hanya sekadar menambah koleksi foto di memori telepon genggam mereka.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Berikan pendapat Anda!

ADVERTISEMENT
Tulis Komentar