Seputarkarawang.com - Karawang, Acara Kirab Mahkota Binokasih yang digelar di Jalan Ir. H. Juanda, Sabtu (9/5) malam, memang menyedot perhatian ribuan warga Karawang. Namun, di balik kemeriahan itu, ada satu pemandangan yang menjadi perbincangan hangat: sebuah kereta kencana putih megah yang melaju tanpa penumpang, tetapi dijaga sangat ketat oleh petugas berpakaian adat seolah membawa tamu istimewa.
Pemandangan ini langsung memancing kritik dari Federasi Mahasiswa Islam (FMI) Karawang. Ketua FMI Karawang, Febry Ramadhan, menilai pemerintah daerah secara tidak langsung telah memberi ruang bagi munculnya budaya tahayul atau kepercayaan pada hal-hal gaib di tengah masyarakat melalui simbol-simbol yang tidak masuk akal tersebut.
Febry menegaskan bahwa mengarak kereta kosong dengan perlakuan yang sangat istimewa bisa membuat masyarakat awam salah paham. Menurutnya, acara budaya harusnya menjadi tempat warga belajar sejarah, bukan malah membuat orang pulang ke rumah dengan cerita mistis tentang adanya "penghuni gaib" di kursi kosong tersebut.
Sebagai perwakilan mahasiswa Islam, Febry mengingatkan bahwa menjaga kemurnian iman warga adalah hal yang paling utama. Jangan sampai sebuah acara yang didanai negara justru membuat orang-orang jadi percaya pada hal-hal klenik yang tidak ada dasarnya, baik dalam ajaran agama maupun dalam ilmu pengetahuan sejarah yang nyata.
FMI memandang bahwa budaya Sunda sebenarnya sangat cerdas dan penuh nilai luhur. Namun, jika yang ditonjolkan justru hal-hal misterius seperti kereta kosong yang "dikeramatkan", maka nilai sejarah asli dari Mahkota Binokasih itu sendiri malah jadi tertutup oleh kesan mistis yang tidak mendidik.
Selain itu, FMI juga menyinggung soal penggunaan anggaran daerah yang tidak sedikit untuk acara tersebut. Febry merasa, daripada uang rakyat habis untuk parade yang menonjolkan kesan gaib, lebih baik anggaran tersebut dipakai untuk mengurus museum atau tempat bersejarah asli di Karawang yang saat ini kondisinya banyak yang memprihatinkan.
"Kami ingin masyarakat Karawang menjadi masyarakat yang pintar dan berpikiran modern. Kalau acara budaya kita masih pakai cara-cara lama yang berbau tahayul, kapan bangsa ini mau maju secara pemikiran?" tanya Febry dengan nada kritis saat memberikan evaluasi terkait jalannya kirab.
Banyaknya warga yang sibuk menebak-nebak siapa "sosok" di dalam kereta kencana menunjukkan bahwa acara ini kurang memberikan penjelasan sejarah yang jelas kepada publik. Akibatnya, fokus warga jadi bergeser ke hal-hal mistis, bukan ke nilai-nilai perjuangan atau filosofi kepemimpinan yang seharusnya dibawa oleh Mahkota Binokasih.
Febry mengingatkan kembali bahwa Karawang adalah daerah yang religius dan agamis. Oleh karena itu, setiap kegiatan yang didukung oleh pemerintah harus sejalan dengan nilai-nilai agama dan tidak memancing warga untuk mempercayai sesuatu yang tidak masuk nalar sehat.
Terakhir, FMI Karawang meminta pemerintah dan penyelenggara acara untuk melakukan evaluasi total. Mereka berkomitmen untuk terus mengawal setiap kegiatan publik agar tetap bersih dari unsur budaya tahayul, sehingga budaya lokal bisa lestari tanpa harus mencederai kemurnian tauhid masyarakat.