Seputarkarawang.com - Karawang, Nilai tukar rupiah (IDR) terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali mencatatkan pelemahan pada perdagangan awal pekan, Senin (4/5/2026). Sentimen pasar global serta pergerakan mata uang utama dunia turut membayangi fluktuasi mata uang Garuda di awal bulan ini.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.10 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah dibuka melemah 4 poin atau sekitar 0,02% ke level Rp17.341 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dari perdagangan sebelumnya pada Kamis (30/4/2026), di mana rupiah sempat ditutup melemah 27 poin setelah sebelumnya sempat tertekan 60 poin di level Rp17.353 per dolar AS.
Dikutip dari CNBC International, tekanan terhadap rupiah terjadi seiring dengan indeks dolar AS yang masih mempertahankan posisinya di level 98,144. Ketahanan indeks dolar ini memberikan sentimen negatif terhadap pasar valuta asing regional, termasuk Asia Tenggara.
Sementara itu, pergerakan mata uang global di pasar spot terpantau bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Dolar Australia tercatat menguat sebesar 0,1% menjadi US$ 0,7211, dan euro mengalami kenaikan sebesar 0,1% menjadi US$ 1,1730 per dolar AS.
Sentimen positif tipis juga terjadi pada poundsterling Inggris yang naik 0,1% menjadi US$ 1,3586. Berbeda dengan mata uang Eropa dan Australia, pergerakan yen Jepang justru relatif stabil di awal perdagangan di Asia setelah adanya intervensi dari otoritas keuangan pekan lalu.
Yen Jepang naik tipis 0,1% menjadi 156,885 terhadap dolar AS, setelah mata uang Jepang sempat menguat 1,4% selama bulan lalu. Penguatan tersebut merupakan kenaikan yang hampir seluruhnya disebabkan oleh pergerakan intervensi pada hari Kamis.
Sampai saat ini, sejumlah pejabat Jepang enggan mengonfirmasi secara resmi apakah mereka telah melakukan intervensi terhadap pergerakan yen. Hal tersebut membuat para analis mempertanyakan apakah intervensi sepihak (unilateral) akan terbukti efektif menahan laju dolar AS.
Kepala Riset Valuta Asing ANZ Bank di Sydney, Mahjabeen Zaman, menilai pasar Jepang masih tutup untuk liburan Golden Week, sehingga likuiditas menjadi lebih tipis. Fokus utama pasar saat ini adalah kemungkinan intervensi lanjutan dan apakah AS akan bergabung mendukung upaya Jepang tersebut.