Seputarkarawang.com - Karawang, Kepedulian terhadap krisis kemanusiaan di wilayah Aceh dan Sumatera memotivasi dua pemuda asal Kabupaten Karawang untuk terjun langsung ke lokasi bencana. Ahmad Assobani, S.Pd. (27), seorang tenaga pendidik asal Kecamatan Kotabaru yang akrab disapa Sobani, bersama rekannya Muhammad Aris, secara sukarela mendaftarkan diri sebagai relawan untuk membantu penanganan dampak bencana yang hingga kini dilaporkan masih sangat parah. Keduanya merupakan anggota relawan yang tergabung dalam HILMI FPI (Hilal Merah Islam - Front Persaudaraan Islam) Kabupaten Karawang.
Misi kemanusiaan ini dimulai pada Senin (15/12/2025), di mana kedua relawan FPI Karawang tersebut bertolak melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, menggunakan transportasi kapal laut. Setelah menempuh perjalanan selama lima hari, mereka tiba di Pelabuhan Belawan pada Sabtu (20/12/2025) dan segera melanjutkan perjalanan darat menuju lokasi terdampak. Pada Minggu (21/12/2025), Sobani dan Aris telah bergabung di Posko Kemanusiaan Relawan Nasional HILMI FPI yang berlokasi di Tualangcut, Kabupaten Aceh Tamiang, bersama sekitar 35 relawan lainnya dari berbagai penjuru Indonesia.
Setibanya di lokasi, Sobani melaporkan bahwa kondisi infrastruktur di Aceh Tamiang mengalami kerusakan serius. Fokus utama tim relawan saat ini adalah melakukan upaya normalisasi pada fasilitas pelayanan publik yang vital bagi keselamatan nyawa masyarakat. “Saat ini kami bersama relawan lain sedang berupaya membantu mengaktifkan kembali RSUD Tamiang Aceh yang kondisinya sangat memprihatinkan karena terdampak langsung oleh bencana,†ujar Sobani dalam laporannya dari lokasi kejadian. Menurutnya, pemulihan rumah sakit menjadi prioritas agar layanan kesehatan bagi ribuan pengungsi dapat kembali berjalan maksimal.
Berdasarkan fakta-fakta memprihatinkan yang ditemukan langsung di lapangan, mulai dari kelumpuhan layanan medis hingga luasnya wilayah yang belum terjangkau logistik, Sobani merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan kondisi darurat tersebut. Sebagai relawan yang menjadi saksi mata di titik nol bencana, ia mewakili aspirasi para relawan di lapangan mendorong Pemerintah Indonesia, khususnya Presiden Republik Indonesia, agar segera menetapkan musibah ini sebagai Bencana Nasional. Legitimasi dorongan ini didasarkan pada skala kerusakan yang dinilai telah melampaui kapasitas penanganan daerah, sehingga diperlukan koordinasi bantuan pusat yang lebih cepat, sistematis, dan menyeluruh.
Sobani dan Aris berkomitmen untuk terus berada di lokasi bencana minimal selama satu bulan, menyesuaikan dengan dinamika kebutuhan di lapangan. Aksi nyata dari relawan FPI Karawang ini diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan infrastruktur vital dan meringankan beban warga terdampak. Solidaritas tanpa batas yang ditunjukkan oleh kedua pemuda ini menjadi bukti nyata bahwa semangat kemanusiaan adalah kunci utama dalam menghadapi setiap krisis nasional.