Seputarkarawang.com - Karawang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang, Jawa Barat, mencatat sebanyak 2.585 keluarga yang terdiri atas 7.704 jiwa di enam desa kini terdampak krisis air bersih akibat musim kemarau. Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus mengintensifkan penyaluran bantuan logistik air bersih guna memastikan kebutuhan dasar masyarakat di wilayah terdampak tetap terpenuhi dengan baik.
"Sejak beberapa bulan terakhir hingga saat ini, kami terus menyalurkan bantuan air bersih ke daerah kekeringan," ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Karawang, Ferry Muharram, saat dihubungi di Karawang, Senin. Berdasarkan data pembaruan per Senin pagi (20/7), total kebutuhan air bersih yang telah didistribusikan ke lokasi sasaran telah mencapai 152.000 liter.
Secara rinci, enam desa yang mengalami krisis air bersih akibat kemarau tahun ini meliputi Desa Mulangsari di Kecamatan Pangkalan, Desa Kutalanggeng serta Desa Cintalanggeng di Kecamatan Tegalwaru. Selain itu, wilayah terdampak juga mencakup Desa Mulyasejati, Desa Kutanegara, dan Desa Parungmulya yang terletak di wilayah Kecamatan Ciampel.
Jumlah warga dan wilayah yang mengalami kekeringan di Kabupaten Karawang tersebut terpantau meluas jika dibandingkan dengan kondisi tiga hari sebelumnya. Pada catatan pemantauan sebelumnya, BPBD Karawang mencatat 5.494 warga atau 1.836 kepala keluarga yang tersebar di empat desa yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.
Menanggapi situasi darurat kekeringan ini, pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan terkait berkomitmen untuk terus siaga menyuplai pasokan air bersih secara berkala. Langkah taktis ini dilakukan guna meringankan beban warga sekaligus memastikan ketersediaan air bersih bagi ribuan jiwa yang terdampak selama puncak musim kemarau berlangsung.
Melalui upaya penanganan cepat tersebut, BPBD Karawang mengimbau seluruh masyarakat di wilayah terdampak agar senantiasa menggunakan air secara bijak dan hemat. Warga juga diminta segera berkoordinasi melalui pemerintah desa setempat apabila menghadapi kendala lanjutan agar distribusi bantuan air bersih dapat terus dioptimalkan secara tepat sasaran.