Seputarkarawang.com - Karawang, KARAWANG — Perusahaan Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Tarum Karawang kembali menuai sorotan tajam. Selama hampir satu minggu, warga Desa Cikande, Kecamatan Cilebar, harus hidup tanpa suplai air bersih. Ironisnya, di saat air tak mengalir, kewajiban membayar tagihan bulanan tetap berjalan tanpa kompromi.
Perumdam Tirta Tarum Karawang sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang mengelola distribusi air bersih, sejatinya memungut biaya dari masyarakat berdasarkan pemakaian. Namun fakta di lapangan menunjukkan, layanan yang seharusnya menjadi hak dasar warga justru terhenti berhari-hari tanpa kepastian yang jelas.
Salah seorang warga Desa Cikande mengaku sudah hampir tujuh hari tidak mendapatkan air bersih akibat kerusakan pipa penyalur yang diduga terbawa arus banjir.
“Air di rumah saya sudah hampir satu minggu tidak mengalir. Katanya pipa putus karena banjir. Tapi kami yang menanggung akibatnya. Mandi, nyuci, buang air, semua serba susah,†keluh warga tersebut, Kamis (29/1/2026).
Ia menambahkan, kondisi ini sangat memberatkan keluarganya. Pakaian kotor menumpuk, kebutuhan air harus dipenuhi dengan membeli air isi ulang, sementara beban ekonomi rumah tangga terus bertambah.
“Kalau bayar tagihan, kami tidak boleh telat. Tapi sekarang kami disiksa dengan tidak adanya air bersih karena perbaikan yang lambat,†ujarnya dengan nada kecewa.
Pihak Perumdam Tirta Tarum Karawang Unit Kecamatan Cilebar membenarkan adanya gangguan suplai air di Desa Cikande. Deni, salah seorang pegawai unit Cilebar, menyebut kerusakan terjadi akibat pipa yang melintang di jembatan terbawa arus banjir.
“Pipa yang lewat jembatan terbawa arus air jadi putus. Kami sedang usahakan dipercepat perbaikannya, tapi arus sungai masih kencang. Untuk sementara kami suplai air menggunakan tangki setiap hari,†jelasnya melalui pesan WhatsApp.
Namun, penjelasan tersebut tak sepenuhnya meredam kekecewaan warga. Kepala Unit Perumdam Tirta Tarum Kecamatan Cilebar, Hatta, menyatakan keterlambatan perbaikan disebabkan proses perizinan dari Dinas PUPR Kabupaten Karawang.
“Air tidak mengalir sekitar 7 hari. Selama ini kami suplai air dengan tangki karena yang terdampak hanya satu dusun. Kami menunggu izin pemasangan pipa jembatan dari PUPR,†katanya.
Sementara itu, pihak Perumdam Tirta Tarum Karawang pusat menyampaikan bahwa pekerjaan perbaikan direncanakan mulai Jumat (30/1/2026) setelah koordinasi dengan Dinas PUPR dan instansi terkait, termasuk BBWS.
Meski suplai air menggunakan tangki diklaim “mencukupiâ€, realitas di lapangan berbicara lain. Warga tetap kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Ketergantungan pada suplai darurat jelas bukan solusi jangka panjang, terlebih air bersih merupakan hak fundamental masyarakat.
Kondisi ini kembali menampar wajah pelayanan publik. Saat warga dipaksa bertahan tanpa air bersih, lambannya penanganan justru memperlihatkan lemahnya manajemen krisis layanan dasar. Air adalah kebutuhan primer, bukan layanan tambahan yang bisa ditunda tanpa konsekuensi kemanusiaan.
Warga Desa Cikande kini hanya berharap satu hal: air kembali mengalir, dan janji perbaikan benar-benar ditepati, bukan sekadar penjelasan administratif yang terus berulang sementara keran tetap kering.